Mboh

Jumat, 21 Juni 2013

Touring ke Bali

Panas Hujan Ku Lalui, Lapar dan haus ku jalani yang penting ada.....

Jogja-Solo-Sragen-Ngawi-Madiun-Caruban-Nganjuk-Jombang-Kertosono-Mojoagung-Mojokerto-Gempol-Pasuruan-Probolinggo-Paiton-Situbondo-Banyuwangi-Pulau Bali

Tanpa rencana dan modal cekak
kenapa tanpa rencana? karena memang gk terpikirkan sebelumnya mau jalan ke pulau dewata ini, gk ada acara mempersiapkan ini itu. Malem kan ada acara reggae di purawista (calipso cafe), disitu akk ketemu ama anak anak vespa yang laen. Kebanyakan anak ekstriman, karena akk sering gabungnya ama mereka, jamming bareng pokoknya happy-happy malem itu, acara selese kami kongkow, ngobrol-ngobrol di parkiran ngebahas apa aja, gk ada yang penting sih, tapi cukup untuk bisa mengocok perut, obrolan hangat penuh dengan canda ria dan tawa. Disinilah mulanya muncul ide buat cabut ke Bali, Temenku Gintink yang punya inisiatif. Malem janjian besok sore kita berangkat. Cuman kita berdua, akk dan Gintink

Modal cekak? iya, waktu itu akk cuman punya uang 300 rebu, dan ginting 100 rebu. Gak punya ban serep, kami cuman bawa ban dalem untuk jaga-jaga jikalau kebocoran ban di jalan.

Berangkat sekitar jam 4 sore, pasti teman teman sudah tau kalo ke sana lewatnya mana, palingan cuman beda jalan setelah nglewati madiun, mau pilih lewat malang, atau surabaya dulu atau malah pilih jalan pintas lewat mojokerto. Kami pilih lewat mojokerto karena memang waktu kami terbatas, Malam sebelum sampai Mojokerto, sekitaran Mojosono kami istirahat buat tidur karena memang mata udah gk kuat di ajak melek, kami tidur di POm bensin (hotel Pertamina), bangn pagi jam 6, cuci muka dan lanjutkan lagi perjalanan. treng teng teng teng !!!!
Sampai Mojokerto sekitar jam 7 pagi, Mampir kerumah temennya Gintink, rumahnya tepat di belakang alun alun Mojokerto, temu kangen dan ngobrol-ngobrol serambi ngopi. Jam satu siang kami cabut lagi, menerobos panas dan ganasnya aspal hitam, Sampai di Pasuruan jam 5 sore, mampir lagi. Kali ini di daerah Ngulink, rumahnya di belakang pasar nguling. Anak-anak Comveni divisi Touring (Comunitas vespa Ngulink Independent) menyambut kami, di jamu dan di bikinin kopi. Inilah kelebihan dari anak vespa, dimana mana kita saudara. Jam 7 malem kami lanjutkan perjalanan, menghancurkan keheningan malam dengan suara lantang knalpot vespaku. Pemandangan indah di depan mata, cahaya terang ribuan mega watt menolak gelapnya malam. Tahukah apakah itu? dan dmana? Iya, itu adalah cahaya dari Pusat Listrik Jawa-Bali, Jika itu hancur maka di pastikan Jawa-Bali akan gelap gulita. Sebagian besar batubara di kalimantan dan sumatera di pasok ke sini.  Daerah Payton, namanya. Setelah kabupaten Probolinggo.
Kami kembali istirahat di Situbondo, kali ini yang jadi peran utama masih Pom Bensin, tapi kali ini kami tidak tidur di musholahnya melainkan di halaman ruko depan pom bensin. Karena kami gk berani buat melanjutkan perjalanan, kenapa? karena setelah ini adalah Hutan lindung Taman Nasional Baluran. Malam" menerjang hutan kan ngeri juga, selain gelap kami menghindari hal hal yang tidak di inginkan.
Pagi kami kembali melanjutkan perjalanan, Welcome to banyuwangi, udah deket aja ma pelabuhan, kami semakin bersemangat memacu si montok, Kami nyebrang sekitaran jam 10an, pada saat itu kami lewat jalur Truk, sehingga tak harus membeli karcis, kami membayar sama pegawai kapalnya langsung. Udah nyebrang kami ketemu anak jogja juga, tapi Dia dalam perjalanan pulang, Kami datang dia Pulang. Sarapan dan ngopi bareng.
Sampai di Negara, kami menunggu teman menjemput guna mampir kerumahnya. Kami nunggu di Halte di depan alun alun Negara. Teguh namanya, dia bukan anak vespa, dia anak C70, tapi mereka welcome sama komunitas apa saja. Bapak teguh merupakan anggota POLRI, tapi juga gila motor tua dan touring pastinya.
Total perjalan yang kami tempuh dari jogja sampai ke Negara, Bali adalah sehari dua malam. lumayan lama ya? iya, karena kami terlalu banyak singgah dan istirahat. Kamar teguh banyak sekali sticker dari berbagai komunitas roda dua, dari klasik, matik, sampai Moge. Semua komunitas yang stickernya tertempel di dinding kamar agus ini sudah pernah singgah dimari.
Dirumah agus 2hari sebelum menghabiskan sisanya di denpasar, Di denpasar kami tidurnya di gubuk parkir Labuan Said. Melewati kampus Udayana, dan GWK. Perjalan pulang kami hanya memakan waktu sehari semalam, karena gk pakek acara singgah. Dari negara jam 1an sampai Mojokerto jam 11, Istirahat (kembali di pom bensin) bangun pagi, jam 6 kembali melanjutkan perjalanan, sampai di jogja sekitaran jam 5 sore
Uangku masih tersisa 80 rebu, Uang gintink habis karena dia beli arak Bali yang katanya garang untuk oleh".
Modalnya cekak banget ya?  
Nih stiker yang nempel di dinding kamar teguh








Tempat tidur kami di Labuan Said







Gintink ma Teguh


Galery foto selangkapnya https://www.facebook.com/Ammar.scooterist29/media_set?set=a.385166534912196.85244.100002565584258&type=3

Minggu, 16 Juni 2013

Gunung merbabu

12 Maret 2013
Beberapa bulan yang lalu, sabtu sore bertolak dari jogja menuju magelang. Niat awal mau ngejar sunset di puncak, karena berangkatnya kesorean alhasil cuman bisa menikmati sunset di beskem. Tapi gk kalah cantiknya kok.
Di atas perbukitan yang penuh dengan tanaman sayuran, udara yang mulai turun derajat celciusnya, kami sudah siap menanti jingganya sinar mentari sore itu, memanjakan mata dahulu sebelum menerjang gelapnya malam nanti guna menggapai puncak merbabu. Terlihat gunung sindoro dan gunung sumbing yang berdiri gagah berdampingan dan beberapa bukit kecil, seperti bukit Tidar yang melegenda itu.





400































Magrib telah usai, kami bersiap mendaki. Sudah pasti sebelumnya cek ulang barang bawaan dan sekiranya yang terlalu penting kami tinggalkan di beskem. Waktu itu kami berlima, 4 cowok dan seorang cewek. Sebelum mulai mendaki kami berkumpul membuat lingkaran kecil dan mulai berdoa, agar supaya perjalan kita selalu dalam lindunganNya. Malam yang gelap, dengan bercahayakan sinar senter kami mulai menelusuri jalan setapak yang menanjak, melewati serentetan rumah penduduk dan perkebunan sayur. Jalanan masih terpasang semacam coran, jadi belom licin, jalan seperti ini sampai pos 1. Setelah itu seperti jalanan gunung biasanya, tanah yang licin karena kebetulan pada saat itu habis hujan. Cukup menguras stamina memang, dengan beban carrier di pundak, tapi semua itu tak kami rasakan, karena sepanjang perjalanan kami selalu menciptakan suasana yang nyaman, dan rileks. Yah, semacam sambil berkelakar, bernyanyi bersama, main tebak"an ataupun saling berbagai pengalaman satu sama lain. Selain itu juga karena kami mendaki di malam hari, sehingga stamina tidak terkuras seperti halnya mendaki disiang hari. Udara malam cukup membantu kami. Tapi bukan berarti kami tidak istirahat. berhenti sejenak untuk bernapas panjang, mengisi cairan tubuh dan merelaksasikan otot itu wajib di lakukan. sesekali sambil bercanda antar sesama untuk mengurangi rasa lelah yang menghantui.
Kita sampai di pos 2 sekitar jam 22:00, yah sekitar 4jam an kami mendaki untuk sampai di pos 2 ini. Pos 2 adalah tempat mendirikan tenda untuk bermalam, karena tempat ini dekat dengan sumber air. Lumayang datar dan lapang tempatnya, tak heran jikan tempat ini di jadikan faforit untuk bermalam.
Kami berbagi tugas, ada yang mendirikan tenda, membuat api dan memasak aer. Tenda selese dan kopi siap untuk di seduh. Tapi sayang, si pembuat api tak mampu menyelesaikan tugasnya karena memang kayu yang basah, sehingga sulit untuk membara. Alhasil malam itu kami tanpa unggun. Kurang greget ya.
Malam itu kami habiskan dengan bercengkrama, ngemil, ngopi dan ngerokok buat yang merokok sebelum akhirnya tidur guna bangun secepat mungkin untuk mengejar sunrise di puncak. Alarm di setting jam 03:00, dan kami masuk tenda untuk beristirahat.
Alarm berbunyi, kami bangun dan mempersiapkan apa apa yang perlu di bawa ke puncak, tentunya kamera. Benda yang satu itu tak boleh ketinggalan. Kami baik kepuncak hanya empat orang, karena yang satu (cewek) gk mau muncak, hanya pingin sampe di pos 2 saja, karena memang dia sudah terlalu sering naik ke sini dan sedangkan kami untuk pertama kalinya. Hanya dengan sedikit petunjuk darinya kami mulai menerjang dingin dan gelapnya dini hari.
Kami ketinggalan momen yang kami kejar karena kami salah jalur, jalur yang sebenarnya sudah tidak terpakai malah kami telusuri, sehingga kami memakan waktu yang lebih lama. Sedikit kecewa memang, tapi tak masalah, karena kami berhasil sampai ke puncak. Turunya baru kami memakai jalur yang benar, Jalurnya pun berbeda dengan jalur yang kami lalui fajar tadi, jalurnya lebih lebar dan lebih terang tentunya tak ada rerumputan yang menutu jalur, beda dengan jalur yang lama.
Sampai tenda si cewek sudah mulai memasak buat kami, tapi belum semuanya. Nasinya beserta lauknya juga belom. Tentu kami harus ikut membantu
Setelah acara makan makan selese kami beres beres karena kabut mulai turun pekat sekali, sehingga kami harus meninggalkan tempat untuk kembali ke beskem sebelum lebih parah.


















Galery foto selengkapnya https://www.facebook.com/Ammar.scooterist29/media_set?set=a.401696343259215.1073741825.100002565584258&type=3

Kamis, 06 Juni 2013

Gunung api purba Langgeran

Sial sebenernya, Naik tanjakan patok sih gakpapa, sampek rumah teman malah vespanya pecah ban. Alhasil kita Boti (bonceng Tiga) ke Langgeran.

Kita mulai naik lepas isyak, sekitar jam 7 malam, berbekal senter dan untung ada leadernya jadi yakin gk bakal tersesat. Sampai puncak di sambut angin malam yang bertiup kencang,  Langsung bersiap dirikan tenda dan membuat api unggun.
Bergitar, bernyanyi bersama menghilangkan penat dan kebosanan dengan hiruk pikuk kehidupan di kota.

Paginya terbangun oleh sinar mentari dan burung kecil yang bernyanyi.

Ngopi dan memandang sunrise itu nikmat sekali, gak ada duanya. haha

Bertemu dengan anak anak ceperist, yang punya kelakar hebat
satu dari sekian kelakarnya yang masih ku ingat

"Mas bro, malem malem kok mainan listrik"
 Di Gunung mana ada listrik? @#$%^







Sunset di Indrayanti

Menikmati indahnya senja jingga di pantai, menyaksikan mentari yang mulai tenggelam. Adalah kegemaranku. Kali ini sunset indrayanti

Bercanda ria, menghabiskan akhir pekan bersama teman teman di pantai sampai mentari mulai tenggelam menyimpan suatu cerita yang layak untuk disebut indah.








Galery foto selengkapnya https://www.facebook.com/Ammar.scooterist29/media_set?set=a.306853156076868.66184.100002565584258&type=3

Sunrise di Bromo

14 Juny 2012

 Jogja-Malang
 Dari stasiun Tugu tengah malem sampai di Stasiun Trunajaya malang jam 8 pagi. Langsung ke kota cari penginapan murah dan sewa motor. Waktu itu saya sewa motor Vario dengan bandrol 45/hari. Sebelum menuju Bromo saya habiskan waktu di Batu. Turun kembali ke kota dan langsung menuju bromo. Hanya bermodalkan tekat, dan peta jalan dari google maps saya mencari jalur untuk menuju Gunung Bromo. Sempat kebingungan dan hampir tersesat, tapi dengan berani bertanya akhirnya saya dapatkan arah yang benar. Salah beloklah, Kelewatanlah, dan juga bingung sedikit campur rasa ragu. Tapi syukur Alhamdulillah semua itu teratasi. Perjalan ini hanya saya seorang, tanpa teman ataupun leader yang membantu, saya rasa hari itu saya berani sekali. Karena memang rasa ingin tahu saya seperti apa gunung bromo itu yang katanya sangat indah.
Melawati desa desa, perkebunan sayur, belok kiri belok kanan mengikuti petunjuk jalan (plakat) yang ada tulisannya Bromo. Di ujung desa suasana mulai sepi dan saya sedikit ragu, beruntung saat itu ada seorang petani yang sedang berkemas untuk kembali ke tempal tinggalnya. Dari seorang petani itulah saya mendapatkan petunjuk. Ternyata jalanku memang bener, tinggal lurus saja.  Melewati hutan yang lebat, jalanan sempit, menanjak dan berkelok-kelok. Bisa kalian bayangkan, menanjak pakek motor matic. Ngeden bro. haha. ini pengalaman pertamaku menerobos hutan yang sunyi sepi seorang diri. Sempat kebingungan lagi ketika udah sampai di banyak persimpangan, ragu mau belok kiri atau belok kanan, atau malah lurus? Beruntung di waktu yang bersamaan muncul 2 mobil strada  yang sepertinya dengan tujuan yang sama seperti saya. Saya ikuti mobil itu dari belakang, dan benar saja. Mereka dari jakarta dan hendak ke Bromo. Pada saat itu posisinya sudah berada diatas dekat dengan lautan pasir, sudah sangat dekat dengan puncak.
Melewati lautan pasir dengan motor matic, bisa di bayangkan ban terus ngepot san ngepot sini,   keseimbanganlah yang dibutuhkan agar tidak terjerembab di pasir. Sudah magrib dan sedikit sudah terlihat ada pemukiman di atas bibir tebing, langsung saya arahkan motor ke pemukiman itu. Disana saya mampir ke warung mesen kopi, karena cuacanya sangat dingin. Sama si empunya di tawarin tempat singgah, langsung saya terima. karena memang kebetulan sangat capek setelah melewati medan yang cukup ekstrim.
Berbekal cerita dari pemilik warung kalo nanti jam 4 fajar pengunjung banyak menuju pelataran untuk menikmati sunrise, saya pun mempersiakan diri. Tentunya dengan tidur lebih cepat dan bangun secepat mungkin. Bener saja, jam 3 saya terbangun dan sudah terdengar banyak jeep yang lewat, sudah bisa di tebak pasti mau ke pelataran. Saya ikuti jeep jeep itu, karena memang saya tidak tahu jalan. Nyolong arah lebih tepatnya. Haha









Ada cerita seru di balik ini semua. Rambut saya kan gimbal, saya kepang keatas. Banyak sekali turis turis yang suka dan ngjakin poto saya. Suatu kebanggaan tersindiri lah bagi saya. bukan kita lagi yang ngajakin mereka poto tapi malah sebaliknya, merekalah yang meminta saya untuk poto bareng mereka.

Galery foto selengkapnya https://www.facebook.com/Ammar.scooterist29/media_set?set=a.296285493800301.63593.100002565584258&type=3