Malam-malam bingung mo ngapain, suntuk kebetulan pada saat itu ada Steven manggung di Alun-Alun kidul (Alkid) Keraton Yogyakarta. Itu masih awal awalnya aku di Jogja, Letak pastinya Alkid pun ak gk tau dimana, yang ada aku tau cuma Alun-alun Utara. Instingku mengatakan kalo Alkid dan Altar itu berdekatan dan pasti ada jalan penghubungnya. Tanpa pikir panjang langsung ku tancap gas menuju Altar, melibas macetnya jalan sekitar Air mancur menuju Malioboro aku ambil kiri lewat jalan Mataram ke selatan, Tibalah aku di Altar, di sana aku tanya tanya ama orang sekitar kemana arah ke Alkid. Dapat petunjuk ! "Masnya ke plengkung sana ntar belok kanan terus lurus ke selatan nanti setelah melewati 2 kali perempatan masnya ambil kanan kemudian tinggal lurus udah nyampek tuh"
Tanpa basa-basi aku langsung cabut, tentu sebelumnya ngucapin terimakasih ke mas-masnya. Tepat di ingatanku setelah melewati dua perempatam ambil kanan, lurus terus udah nyampek ke Alkid. Tapi ini bukannya nyampek tujuan e malah muter"muteri perkampungan. Curiga kalo jalan yang ambil salah, aku berhenti dan coba tanya ke tukang angkringan. Ternyata benar, saya salah belok. Seharusnya aku belok setelah perempatan di depannya. Cukup lama aku muter-muter di perkampungan itu.
Ku pacu Vespaku keluar dari perkampungan ini, muter muter salah gang tapi akhirnya aku berhasil kembali ke jalur yang benar. Ketemu perempatan yang aku salah belok tadi, ku lewati kali ini dan samapilah ke perempaan yang berikutnya aku ambil kanan dan ternyata ini baru benar. Sampailah aku di Alkid. Ku sandarkan vespaku di trotoar jalan akupun langsung berlari di tengah tengah kerumunan keramaian. Tapi sayang belum puas menikmati, konser berakhir. Mirisnya cuman kebagian satu lagi. OH SHIT ! Keluar menuju vespaku, eh di sana vespaku di jejeri vespa ekstriman. Ku ajak kenalan si empunya. Namanya Mando dari wates. Dia berangkat bareng temennya. Aduh.. aku lupa siapa namanya.
Baru ketemu udah akrab banget kayak udah lama kenal, Nongkrong di depan Bank Indonesia bareng Dia dan temen"nya. Lumayan lama, bercengkrama bersendau gurau. Tanpa terasa udah laru malam, yang lain pada pamit pulang. Eh si Mando malah ngjakin ke Parangtritis. Tanpa pikir panjang aku terima ajakannya, tancap gas menembus dinginnya malam bertiga.
Sampai di Parangtritis entah jam berapa, tapi situasi di sana masih ramai. Perkiraan sih udah jam satu dini hari, Kami mencoba mendekatkan Vespa kami ke bibir pantai, Ban berputar di pasir. Banting sana banting sini, dengan sedikit dorongan kami berhasil menggapai tepi pantai. Hembusan angin dan demburan ombak menyambut kami. Semakin larut suasana di pantai semakin ramai, Mungkin karena 1 suro.
Malam itu kami tidur beralaskan pasir pantai dan berselimutkan angin malam. Dinginyya.... BRRRRR sampai ke tulang, beruntung kami tak masuk angin
Terbangun oleh sinar menatari, deburan ombak dan burung burung kecil yang bernyanyi. Mentari mulai mengintip di balik tebing tebing, dan memancarkan jingga sinarnya, tersenyum seolah-olah menyapa kami.
"Selamat Pagi". Moment itu tak pantas di lewatkan dan moment itulah yang kami tunggu
tunggu.








